Senin, 08 Januari 2024

RINGKASAN MATERI IPS KELAS 6 SEMESTER 2

 

Makna Proklamasi Kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia


Naskah proklamasi yang sudah diketik dengan mesin ketik oleh Sayuti Melik.
ANRI
Naskah pr

Ilustrasi pembacaan naskah proklamasi 17 Agustus 1945
Tangkap Layar Buku Tematik Kelas 5 SD Subtema 2
Ilustrasi pembacaan naskah proklamasi 17 Agustus 1945

Makna Proklamasi bagi Bangsa Indonesia


Proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi tersebut dibacakan oleh Ir. Soekarno

dengan didampingi Moh Hatta.

Proklamasi Kemerdekaan ini bertujuan untuk mencapai kebahagiaan seluruh rakyat Indonesia. Dengan dibacakannya

proklamasi kemerdekaan Indonesia, artinya bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Adapun perjuangan bangsa Indonesia

dalam meraih kemerdekaan bukanlah hal yang mudah dan memerlukan perjalanan yang sangat panjang. Segala bentuk perlawanan pun

dilakukan demi tercapainya kemerdekaan Indonesia. Berikut beberapa peristiwa penting sebelum proklamasi kemerdekaan.


1. Jepang Kalah dari Sekutu


Pada akhir tahun 1944, momen kekalahan Jepang sudah mulai terlihat pada saat Perang Pasifik. Pada saat itu, pasukan Jepang menderita kekalahan

terhadap pasukan Sekutu. Hal ini diperparah dengan dilakukannya pengeboman dua kota Jepang oleh pasukan Sekutu dibawah pimpinan Amerika Serikat,

yakni Kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Kota Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Pengeboman ini membuat jatuh nya korban jiwa

dalam jumlah mencapai ribuan hingga akhirnya Jepang mengalami kehancuran total. Oleh karena peristiwa ini, Jepang berjanji akan memberikan

kemerdekaan kepada Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945


Kedudukan Jepang makin sulit, pasukan Sekutu bertambah dekat ke Jepang. Rusia juga mengumumkan perang dengan menyerang Manchuria.

Akhirnya, Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 di atas geladak kapal perang Amerika yang bernama USS Missoun

yang sedang berlabuh di Teluk Tokyo, diumumkan oleh Kalsar Hirohito, Berita menyerahnya Jepang kepada Sekutu didengar oleh Syahrir (tokoh pemuda)

dari siaran radio Amerika (Voice of America)


2. Pro-Kontra Proklamasi pada Peristiwa Rengasdengklok

Berita kekalahan Jepang langsung diketahui para pemuda Indonesia

sehingga menyebabkan ketegangan di antara golongan tua dan golongan muda

Golongan tua merupakan para anggota PPKI seperti Soekarno dan Hatta, sedangkan

golongan muda diwakili oleh para anggota PETA dan para mahasiswa

Ketegangan ini terjadi karena kedua golongan tersebut memiliki pendapat yang berbeda.

Bagi golongan tua, mereka beranggapan bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah.

Meskipun Jepang telah kalah, kekuatan militernya yang ada di Indonesia masih kuat Proklamasi

kemerdekaan bisa dilakukan

dengan jalan bekerja sama dengan Jepang. Mereka menghendaki pembacaan proklamasi

harus melalui PPKI dan sesuai prosedur yang telah dijanjikan oleh Jepang. Hal ini berbeda dengan pendapat

para golongan muda yang menolak jika proklamasi harus dilaksanakan melalui PPKI Pasalnya,

golongan muda menganggap bahwa PPKI merupakan bentukan Jepang. Mereka menginginkan

kemerdekaan dengan kekuatan sendiri Sultan Syahir mendesak Soekarno-Hatta untuk segera

melakukan proklamasi

Hingga akhirnya, golongan muda membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklo Rengasdengklok

merupakan daerah di Kabupaten Karawang. Adapun tujuan golong muda membawa Soekarno-Hatta k

e luar Jakarta untuk menjauhkan mereka dari pengan Jepang. Pengamanan Soekarno-Hatta ke

Rengasdengklok dibantu dengan perlengkap tentara PETA Rengasdengklok dipilih karena letaknya

strategis dan terpencil sehingg tentara PETA bisa mengawasi setiap langkah tentara Jepang.


- Perumusan serta Pengesahan Teks Proklamasi


Terjadinya peristiwa Rengasdengklok membuat jalan pikiran Soekarno-Hatta berubat Soekarno-Hatta a

khimya menyetujui agar proklamasi kemerdekaan harus segera dibacakan Setelah kembali ke Jakarta,

mereka menuju kediaman Laksamana Maeda untuk melakuka perumusan teks proklamasi.


Rumah Laksamana Maeda dipilih dan menjadi bagian dari sejarah kemerdekaa Indonesia karena Maeda

merupakan Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut yang ama dari ancaman militer Jepang.

Pertemuan di kediaman Laksamana Maeda ini dihadiri pu perwakilan golongan pemuda.


Berdasarkan pembicaraan antara Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Ahmad Soebardjo

didapatkan rumusan teks proklamasi yang langsung ditulis tangan oleh Soekarno.

Naska tulisan tangan Soekarno nantinya mengalami tiga perubahan setelah diketik oleh Sajoe Melik.

Berikut naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia setelah diketik.


PROKLARASI


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia

. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama

dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Soekarno/Hatta.”


4. Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan


Setelah teks proklamasi selesai dirumuskan dan disahkan, teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pun

dibacakan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Pembacaan proklamasi dilakukan di kediaman

Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Awalnya, rakyat dan para tentara Jepang mengira bahwa

pembacaan teks tersebut akan dilakukan di Lapangan Ikada. Berdasarkan prasangka tersebut,

tentara Jepang sudah memblokade Lapangan Ikada terlebih dahulu.

Pemimpin barisan pelopor Sudiro yang hadir di Lapangan Ikada pada saat itu,

kemudian menyampaikan situasi yang terjadi di sana kepada Muwardi kepala keamanan Soekarno.

Sumber: nusantara.

new

Upacara proklamasi dihadiri oleh sejumlah tokoh bangsa Indonesia dengan pengawalar para pemuda Upacara dimulai pada pukul 10.00 WIB

dengan tata urutan sebagai berikut


a. Pemberian sambutan oleh dua anggota panitia b. Pemberian sambutan oleh Mohammad Hatta


Ilmu Pengetahuan

. Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan oleh Soekarno.


d. Pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat dan Suhud, yang secara spontan hadirin menyanyikan lagu "Indonesia Raya".


Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hanya berlangsung satu jam. Meskipun singkat dan sederhana, peristiwa tersebut menandai

terbentuknya bangsa dan negara Indonesia yang merdeka. Adapun seputar pengumuman Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, antara lain

tiang bendera terbuat dari bambu yang

diberi tali dan ditanam di teras rumah Soekarno, bendera merah putih dijahit oleh istri Ir. Soekarno bernama Fatmawati Soekarno, mikrofon

dan pengeras suara dipinjam dari suatu toko elektronik.


Peristiwa bersejarah ini memiliki makna tersendiri bagi kehidupan bangsa Indonesia hingga saat ini. Makna proklamasi pastinya memiliki

makna luhur bagi bangsa Indonesia. Dari proklamasi, Indonesia berhasil menentukan nasib bangsanya sendiri. Oleh karena itu, proklamasi

dirayakan dengan meriah dan penuh sukacita. Makna proklamasi menjadi bentuk perjuangan para pendiri negara dan rakyatnya.


Sebagai rakyat Indonesia, kamu wajib memahami makna proklamasi ini. Dengan memahami makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,

diharapkan dapat menumbuhkan semangat patriotisme pada masyarakat.

Adapun beberapa makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagai berikut


1. Awal Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia menjadi awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

sesuai Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam pasal tersebut, menyebutkan bahwa Indonesia

merupakan sebuah kesatuan yang berbentuk republik. Melalui proklamasi, kemunculan konstitusi, pemerintahan, dan


wilayah dalam sebuah negara akhirnya disahkan. Puncak Perjuangan Bangsa Indonesia 2.


Proklamasi kemerdekaan Indonesia juga menjadi puncak perjuangan bangsa Indonesia Dikatakan

demikian karepa

bangsa Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mengusir penjajah, baik secara fisik maupun

diplomasi.

Sebelum tahun 1908, perjuangan rakyat Indonesia bersifat kedaerahan. Oleh sebab itu, perjuangan

tersebut belum maksimal dan sering mengalami kegagalan. Hingga akhirnya setelah tahun 1908,

bangsa Indonesia sadar bahwa gagalnya perjuangan bangsa Indonesia disebabkan karena

kurangnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Dengan demikian, perjuangan bangsa Indonesia

untuk mendapat kemerdekaan dilakukan secara nasional. Adanya persatuan dan kesatuan


bangsa Indonesia menjadi jalan tercapainya cita-cita bangsa untuk bisa merdeka.

3. Tonggak Sejarah Bangsa Indonesia


Proklamasi merupakan tonggak sejarah dari lahirnya bangsa Indonesia. Selain itu, proklamasi juga

menjadi penanda bahwa telah berakhirnya penderitaan rakyat akibat penjajahan. Proklamasi kemerdekaan

Indonesia ibarat tiang utama perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan

menjaga martabatnya.


4. Awal Perjuangan Baru


Melalui proklamasi, Indonesia memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan nasibnya sendiri

Setelah mendapatkan kemerdekaan, Indonesia memiliki tantangan baru untuk membangun

dan menyejahterakan bangsanya. Perjuangan bangsa Indonesia tidak selesai begitu saja. Bangsa Indonesia

perlu banyak berbenah, khususnya pada ranah pembangunan nasional di bidang ekonomi, sosial, dan budaya

Masih banyak visi misi yang harus dijalankan untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

Dengan demikian, proklamasi kemerdekaan dapat dijadikan jembatan emas menuju masyarakat

yang sejahtera.



5. Kemerdekaan secara De Facto


Proklaması Kemerdekaan Indonesia sebagai bentuk pernyataan de facto bahwa Indonesia telah merdeka.

De Facto merupakan istilah yang berarti kenyataan atau fakta. Ha tersebut berarti bahwa Indonesia

telah secara nyata merdeka dan dapat dibuktikan secara nyata. Dengan demikian, proklamasi menjadi

pernyataan de facto kepada dunia luar bahwa A Indonesia telah merdeka. Setelah pengakuan de facto,

Indonesia mendapatkan pengakuan de jure atau pengakuan secara hukum tentang status kemerdekaannya.


6. Menaikkan Martabat Bangsa Indonesia


Proklamasi Kemerdekaan Indonesia menaikkan martabat bangsa. Sebelum merdeka, status Indonesia

dianggap sebagai negara jajahan. Negara jajahan biasa dianggap rendah dan tidak memiliki banyak hak.

Dengan proklamasi kemerdekaan, Indonesia menjadi negara bebas dengan martabat seperti bangsa-bangsa

merdeka lainnya.


7. Bentuk Kedaulatan Indonesia


Pernyataan kemerdekaan membuat Indonesia menjadi negara yang memiliki pemerin tahan, hukum,

dan tidak terikat dengan negara penjajah mana pun. Proklamasi juga sebaga dasar bahwa bangsa Indonesia

berhak menentukan nasibnya sendiri dalam berbagai aspek d kehidupan. Hal tersebut menunjukkan bahwa

Indonesia lebih berdaulat setelah mendapatkan kemerdekaan.


8. Perubahan Tata Hukum dari Kolonial Menjadi Nasional


Proklamasi juga bermakna bahwa adanya perubahan tata hukum kolonial menjadi nasional.

Seperti kita ketahui bahwa sebelum merdeka, tata hukum dan peraturan lain di Indonesia dibuat

oleh bangsa asing yang kebanyakan menyengsarakan kehidupan masyarakat. Namun setelah merdeka,

Indonesia menjadi negara yang berdaulat sehingga memiliki kekuasaan penuh untuk mengubah tata hukum

dan peraturannya.


Diraihnya kemerdekaan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa bangsa Indonesia berani untuk menentukan

nasibnya sendiri di segala aspek. Adapun tugas selanjutnya bagi bangsa Indonesia adalah mempertahankan

serta mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif yang mampu meningkatkan taraf kehidupan bangsa

sehingga tercipta bangsa yang sejahtera, adil dan makmur. Kamu sebagai pelajar juga harus berperan aktif

dalam mengisi kemerdekaan, salat satunya dengan belajar. Belajarlah yang rajin agar kelak kamu sukses

dan mampu mengharumkan bangsa Indonesia!

Kamis, 07 Desember 2023

SEJARAH PERRKEMBANGAN PSM TAKERAN MAGETAN JAWA TIMUR INDONESIA

 

SEJARAH PERRKEMBANGAN PSM


1. Periode Awal (Masa Peirintis)

1880M / 1303H – 1936M / 1355H

Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) pada mulanya bernama “ Pesantren Takeran “ adalah bentuk pesantren sentris, dengan sistem pengajarannya melalui pendekatan pondok murni.

Pesantren Takeran dikemudikan, didirikan oleh Kyai Hasan Ulama’ yang merupakan seorang ulama’ ahli hikmah sufiyah (seperti tertuang dalam Majmu’ah Risalah) dengan dibantu oleh Kyai Moh. Ilyas pada tahun 1880 M / 1303H.

Kyai Hasan Ulama’ adalah putra Kyai Kholifah dan merupakan prajurit penasihat spiritual Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke daerah timur (Desa Bogem, Sampung, Ponorogo tahun 1825 – 1830 M).

Setelah Kyai Kholifah wafat, Kyai Hasan Ulama’ meninggalkan Bogem menuju Takeran yang sebelumnya menetap sementara di Desa Tegalrejo dalam upaya proses pendalaman ilmu agama yang dimiliki, dirasa cukup mendalami ilmunya Kyai Hasan Ulama’ berangkat ke Takeran dan merintis berdirinya pesantren dalam bentuk pondok tradisional dan mengubah lingkungan masyarakat yabg sebelumnya kurang tersentuh nilai-nilai moral menjadi lingkungan yang sarat dengan norma-norma agamis. Hal itu dapat dilihat dari aspek budaya yang berkembang ditengah masyarakat, serta berdirinya tempat-tempat ibadah (Langgar/Surau) dibeberapa tempat, yang pendirinya adalah santri-santri / murid Kyai Hasan Ulama’.

*) Perjalanan / proses keilmuan Kyai Hsan Ulama’ terhimpun dalam buku tersendiri.

Strategi / cara yang dilaksanakan Kyai Hasan Ulama’ dalam mengembangkan Pesantren Takeran adalah melalui pendekatan “magersari”. Cara ini ditempuh karena kondisi bangsa Indonesia masih berada dijaman kolonial, sehinggga memerlukan embrio-embrio / bibit unggul sebagai kekuatan lahir maupun bathin untuk menghadapi kekuatan penjajah yang sudah mengakar dibumi Indonesia. Cara tersebut ternyata cukup efektif dalam menghimpun kekuatan serta membentuk kader pesantren yang berkualitas. Terbukti jumlah murid / santri di Takeran berkembang cukup pesat dan Langgar / Surau bahkan masjid sudah berdiri bukan hanya diwilayah Takeran tetapi sampai ke daerah lain misalnya Magetan, Madiun, Nganjuk.

Pengembangan Pesantren Takeran tetap berlangsung sampai akhirnya Kyai Hasan Ulama’ wafat padda tahun 1914M / 1337H. Kelangsungan Pesantren Takeran diterusakn oleh putra-putranya serta pengasuh yang telah dididik dibawah pimpinan KH. Imam Muttaqien putra sulung Kyai Hasan Ulama’. Sistem yang digunakan tetap mempertahankan cara “magersari” yang telah ditanamkan oleh Kyai Hasan Ulama’, hanya pengembangannya telah luas.

2. Periode Pembaharuan

1936M / 1355H – 1948M / 1367H

A. Dasar Pembaharuan.

Setelah KH. Imam Muttaqien wafat pada tahun 1936M maka Kyai Imam Mursyid Muttaqien sebagai putra almarhum, memprakarsai adanya sistem pembaharuan dengan pola kepemimpinan Pesantren. Pada dasarnya sistem ini adalah lebih mengembangkan potensi para Kyai / sesepuh pesantren yang memiliki spesialisasi ilmu agama dalam arti luas, sehingga pengenalan sistem dirintis melalui pembidangan tugas yang terkoordinir dalam satu mekanisme kelembagaan yang bernama “Majelis Pimpinan Pesantren”.

Dalam Majelis Pimpinan ini bertindak sebagai Pemimpin Umum Pesantren yaitu Kyai Imam Abu Syukur dan Kyai Arwachun sebagai wakilnya. Kyai Muhammad Umar sebagai khotib sekaligus mengajar ilmu nahwu, Kyai Muhammad Nur bertindak sebagai Lurah Pondok yang mengajar ilmu Fiqih dan Tarikh, Kyai Muhammad Faham mengajar ilmu umum. Pelaksanaan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas santri / murid Pesaantren dalam peranannya ditengah kehidupan masyarakat.

Sistem ini mengalami beberapa penyempurnaan disesuaikan dengan situasi internal maupun eksternal yang semakin menuntut kualitas pendidikan, maka pada tanggal 9 Syawal 1358H / 1939M didirikan Majelis Ma’arif (Majelis Pengajaran) dengan tujuan pokok “Mengatur, Merencana, Mengawasi dan Memperluas serta menyempuranakan perguruan Islam dan pendidikan Islam dalam Pesantren Takeran” (dikutip dari Majmu’ah Risalah).

Majelis Ma’arif ini pada hakekatnya adalah meningkatkan serta mengembangkan sistem yang telah dirintis sebelumnya. Melalui Majelis Ma’arif ini dikenalkan sistem pendidikan melalui pendekatan terpadu antara cara lama dengan cara baru. Cara lama / tradisional adalah dengan pengajaran “Weton Sorogan”. Cara baru sistem madrasah, dengan aturan klasikal sesuai dengan tingkatan umur dan kebutuhan yang ada. Pengenalan dan penerapan sistem ini diharapkan menjangkau yang lebih luas terhadap kemaslahatan umat, sehingga segala lapisan masyarakat dapat mengenyam pendidikan di Pesantren Takeran sesuai dengan tujuan pendirinya Kyai Hasan Ulama’.

B. Metode / Sistem Pembaharuan

Setelah Majelis Ma’arif berjalan beberapa tahun, hasilnya ternyata cukup efektif dan memberikan manfaat yang besar, terutama untuk anak usia sekolah, karena metode ini telah membagi / memisahkan usia dengan tingkatan pendidikan (klasikal). Walaupun dengan cara tradisional dan sarana prasana yang masih sederhana, karena tempat belajar masih dirumah ustadz / kyai dimana suasana Pondok Pesantren masih sangat mewarnai, meskipun sudah diberi pelajaran umum secara klasikal.

Dengan rasa tawadlu’ dan istiqomah yang ditanamkan oleh Ustadz/Kyai inilah sistem pendidikan PSM memberikan hasil yang baik terhadap kader-kader Pesantren, sehingga dirasakan perlunya peningkatan pengembangan sistem yang lebih menjangkau pada strata masyarakat agar metode tersebut dapat lebih bermanfaat pada masyarakat luas.

Oleh karena itu pendiri Majelis Ma’arif Kyai Imam Mursyid Muttaqien melakukan konsultasi dan musyawarah dengan beberapa tokoh Nahdlatul Ulama’, Muhammadiyah, PSII maupun dengan sesepuh pesantren.

Setelah beberapa tahap pembicaraan yang mendalam dan mendasar, Kyai Imam Mursyid Muttaqien secara konsepsional membuat metode pengembangan Pesantren dengan suatu sistem kelembagaan yang terorgainisir dalam suatu mekanisme organisasi yang diberi nama “PESANTREN SABILIL MUTTAQIEN” dan dikukuhkan dalam rapat besar Pesantren di Masjid Jami’ Pesantren Takeran, tepatnya pada tanggal 16 September 1943M / 9 Syawal 1362H.

Dalam rapat besar ini telah dicanangkan oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien adanya pengelolaan / pengembangan Pesantren yang terpadu melalui sistem mekanisme organisasi dengan kelengkapan struktur dan fungsinya. Sistem ini sama sekali tidak mengubah dasar / jiwa pendiri Pesantren Kyai Hasan Ulama’, tetapi merupakan pengembangan sistem yang lebih komprehensif / akomodatif dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga tujuan pokok PSM dapat tercapai lebih sempurna yaitu :

“ Memancarkan yang seluas-luasnya pendidikan tentang Islam, sehingga pesantren ini mampu menghasilkan orang yang cakap dan tinggi kefahamannya tentang Islam, rajin bernakti dan beramal kepada masyarakat, berdasarkan taqwa (tunduk kepada Allah) sehingga menjadi orang yang ber-Ilmu, ber-Amal, ber-Taqwa”.

Dalam rapat besar tersebut hadir beberapa tokoh Organisasi Kemasyarakatn / Agama yang membantu kelancaran pengukuhan nama Pesantren Sabilil Muttaqien diantaranya : Maksum Yusuf (Ketua Nahdlatul Ulama’ Madiun) bertindak sebagai protokol, Haji Mansyur (Pengudus Muhammadiyah) dan Wondo Amiseno (Ketua PSII) yang memberikan sambutan serta Kyai Imam Mursyid Muttaqien yang membacakan Majmu’ah Risalah PSM sekaligus bertindak selaku Pimpinan Umum Pesantren.

Metode / sistem pembaharuan dari Pondok Pesantren menjadi Organisasi Pesantren Sabilil Muttaqien pada tanggal 16 September 1943 ini menjadi tonggak sejarah yang sangat penting karena pada tanggal tersebut dilaksanakan pembangunan gedung madrasah yang besar di pusat PSM, yang akan digunakan untuk segala macam kegiatan pengajaran mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi, dan sebagai langkah awal dididirikan sekolah guru (Madrasah Mu’alimin atau Kullyatul Mu’alimin) yang pada akhirnya menjadi SGMI (Sekolah Guru Menengah Islam).

Didalam Majmu’ah Risalah yang dibuat Kyai Imam Mursyid Muttaqien terdapat beberapa pedoman yang merupakan dasar sistem pembaharuan yang akan dilaksanakan diantaranya :

Bab I : Berisi tentang Risalah Peraturan Umum (RPU).

Bab II : Berisi tentang Risalah Peraturan Khusus (RPK).

Bab III : Berisi tentang Risalah Qo’idah (RQ).

Bab IV : Berisi tentang Risalah Lampiran ( Riwayat Hidup pimpinan

PSM sejak Pesantren Takeran).

Pada tahun 1945M / 1364H, dilakukan Rapat Besar A’la (RBAI) di Bogem, Sampung, Ponorogo yang merupakan perwujudan pelaksanaan Majmu’ah Risalah.

Dalam RBAI dihadiri utusan / kader PSM yang tersebar dibeberapa daerah diputuskan dan ditentukan struktur organisasi / lembaga seperti diamanatkan dalam Majmu’ah Risalah.

Pelaksanaan sistem dan mekanisme pembaharuan oleh PSM seperti tertuang dalam Majmu’ah Risalah telah menunjukkan perkembangan terutama dibidang pendidikan cukup pesat, karena sampai dengan tahu 1946 PSM telah dapat menampung siswa kurang lebih 500 anak yang tersebar diseluruh cabang disamping terdapat 300 siswa Mu’alimin yang berada di Takeran sebagai pusatnya.

C. Hambatan / Tantangan Terhadap Sistem Pembaharuan

Seiring dengan perkembangan PSM yang semakin maju dari tahun ketahun, yang dilandasi penanaman idealism oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien tentang “Ruhul Islam Wal Wathon” telah menunjukkan hasil yang sangat baik dan mendalam terhadap santri dan murid PSM. Namun dalam keadaan / kondisi tersebut terjadi musibah Pemberontakan PKI (Madiun Affair tahun 1948) yang mengakibatkan sebanyak 14 orang tokoh PSM termasuk Kyai Imam Mursyid Muttaqien diculik dan dibunuh secara kejam dan biadab.

Nama-nama korban tersebut adalah :

1. Kyai Imam Mursyid Muttaqien (Pemimpin Umum)

2. Kyai Muhammad Nur (Wakil Pemimpin Umum)

3. Kyai Imam Faham (Guru dan Pengasuh PSM)

4. Mohammad Suhud (Bagian Pendidikan)

5. Mohammad Maidjo (Kepala Madrasah Ibtidaiyah)

6. Rekso Sisiwojo (Guru Bahasa Daerah Mu’alimin)

7. Kyai Baidlowi (Guru Agama / Ahli Fiqih)

8. Ustadz Hadi Addaba’ (Guru Bahasa Arab)

9. Muhammad Nurun (Pengurus PSM)

10. Imam Dihardjo (Pengurus PSM)

11. Hartono (Guru Bahasa Arab)

12. Rofi’i (Penasehat PSM)

13. Prijo Hutomo (Penasehat PSM)

14. Husein (Ketua Pelajar Mu’alimin PSM)

Oleh karena itu, jika sejarah ingin mencatat tidak berlebihan jika Pesaantren Sabilil Muttaqien merupakan salah satu Pondok Pesantren di negara kita yang paling merasakan akibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1948 di Madiun.

Untuk mengenang korban keganasan pemberontakan PKI tahun 1948, dibangunlah suatu monumen yang disponsori oleh putra salah satu korban yaitu, M. Kharis Suhud yang merupakan tokoh nasional dan mantan Ketua DPR/MPR RI. Lokasi monumen yang disebut tetenger tersebut adalah di Soco I dan Soco II serta di Cigrok dan Batokan, karena ditempat itulah terjadi pembantaian pejuang Republik Indonesia dan para syuhada’ PSM.

Dengan adanya peristiwa pemebrontakan PKI 1948 tersebut, PSM mengalami krisi kepemimpinan karena Pemimpin Umum dan pengurus serta pengasuh banyak yang gugur. Hal itu sangat dirasakan pengaruhnya oleh paran santri / murid yang pada waktu itu sangat membutuhkan bimbingan dan dukungan moril, karena pelaksanaan sistem pembaharuan yang dibuat oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien baru berjalan beberapa tahhun dan belum mampu dikembangkan secara optimal oleh warga PSM, maka kehilangan pemimpin dan pengasuh / ustadz merupakan keprihatinan yang mendalam bagi warga PSM, sehingga merupakan tantanngan bagi segenap warga yang ditinggalkan untuk tetap dapat melaksanakan dan mengembangkan konsep dasar pendirinya dengan ikhlas seperti yang tersirat maupun tersurat dalam Majmu’ah Risalah PSM.

Ditengah suasana berkabung dan prihatin warga PSM masih harus diuji kesabarannya oleh Allah yaitu terjadinya serangan Belanda yang lebih dikenal dengan “Clash” tahun 1949. Dalam perang tersebut putra terbaik / murid PSM banyak yang gugur menjadi pahlawan bangsa, antara lain :

1. Sudijo (Siswa kelas II Mu’alimin Takeran)

2. Warno Surodjo (Siswa kelas II Mu’alimin Takeran)

3. Suparno (Siswa kelas III Mu’alimin)

4. Sumani (Siswa kelas III Mu’alimin)

Disamping itu gedung madrasah pusat yang baru dibangun sebanyak 6 lokal terpaksa dibumi hanguskan oleh pasukan kita sendiri supaya tidak ditempati oleh Belanda. Dua peristiwa penting tersebut menjadikan warga PSM dan para sesepuh / pengasuh mengalami krisis kepemimpinan, maka pada tahun 1949 diadakan musyawarah inti warga PSM di Takeran.

Dalam pertemuan tersebut diputuskan Pengurus Pusat darurat yang diketuai Kyai Imam Suradji bin Muhammad Syahid. Pengurus darurat ini menghasilkan terjadinya proses Ihtifal V di Magetan.

Hasil Ihtifal I ini adalah mengadakan pembentukan organisasi disegala bidang dengan dipimpin / dipelopori oleh Siti Fauziah binti Kyai Haji Imam Muttaqien, adik Kyai Imam Mursyid Muttaqien yang kemudian menjadi istri Kyai Haji Mohammad Tarmoedji. Dibawah kepemimpinan Siti Fauziah ini didirikan pula Muslimat PSM.

Berkat keuletan dan kegigihan serta kesabaran para pengurus PSM yang masih ada maka pada tahun 1951 telah berhasil diresmikan pembangunan gedung madrasah tahap I, disusul pada tahun 1957 pembangunan madrasah tahap II. Sebagai catatan perlu diketahui bahwa decade tahun tersebut tidak banyak yang dapat dicatat karena kondisi memang sedang dalam keadaan krisis kepemimpinan dan semuanya serba darurat.

 

Sejarah PSM

Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) pada mulanya bernama “Pesantren Takeran“ adalah bentuk pesantren sentris, dengan sistem pengajarannya melalui pendekatan pondok murni. Pesantren Takeran didirikan oleh Kyai Hasan Ulama’ yang merupakan seorang ulama’ ahli hikmah sufiyah dengan dibantu oleh Kyai Moh. Ilyas pada tahun 1880 M / 1303H.

Kyai Hasan Ulama’ adalah putra Kyai Kholifah dan merupakan prajurit penasihat spiritual Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke daerah timur (Desa Bogem, Sampung, Ponorogo tahun 1825 – 1830 M). Setelah Kyai Kholifah wafat, Kyai Hasan Ulama’ meninggalkan Bogem menuju Takeran yang sebelumnya menetap sementara di Desa Tegalrejo dalam upaya proses pendalaman ilmu agama yang dimiliki, dirasa cukup mendalami ilmunya Kyai Hasan Ulama’ berangkat ke Takeran dan merintis berdirinya pesantren dalam bentuk pondok tradisional dan mengubah lingkungan masyarakat yang sebelumnya kurang tersentuh nilai-nilai moral menjadi lingkungan yang sarat dengan norma-norma agamis. Hal itu dapat dilihat dari aspek budaya yang berkembang di tengah masyarakat, serta berdirinya tempat-tempat ibadah (Langgar/Surau) di beberapa tempat, yang pendirinya adalah santri-santri Kyai Hasan Ulama’.

 

Pengembangan Pesantren Takeran tetap berlangsung sampai akhirnya Kyai Hasan Ulama’ wafat pada tahun 1914 M / 1337 H. Kelangsungan Pesantren Takeran diteruskan oleh putra-putranya serta pengasuh yang telah dididik dibawah pimpinan KH. Imam Muttaqien putra sulung Kyai Hasan Ulama’. Pada masa kepemimpinan KH. Imam Muttaqien masih meneruskan pengajaran yang sama seperti KH. Hasan Ulama’. Setelah KH. Imam Muttaqien wafat pada tahun 1936M maka Kyai Imam Mursyid Muttaqien sebagai putra almarhum, memprakarsai adanya sistem pembaharuan dengan pola kepemimpinan Pesantren.

 

Setelah beberapa tahap pembicaraan yang mendalam dan mendasar, Kyai Imam Mursyid Muttaqien secara konsepsional membuat metode pengembangan Pesantren dengan suatu sistem kelembagaan yang terorgainisir dalam suatu mekanisme organisasi yang diberi nama “PESANTREN SABILIL MUTTAQIEN” dan dikukuhkan dalam rapat besar Pesantren di Masjid Jami’ Pesantren Takeran, tepatnya pada tanggal 16 September 1943 M/9 Syawal 1362 H.

Dalam rapat besar ini telah dicanangkan oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien adanya pengelolaan atau pengembangan Pesantren yang terpadu melalui sistem mekanisme organisasi dengan kelengkapan struktur dan fungsinya. Sistem ini sama sekali tidak mengubah dasar / jiwa pendiri Pesantren Kyai Hasan Ulama’, tetapi merupakan pengembangan sistem yang lebih komprehensif/akomodatif dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga tujuan pokok PSM dapat tercapai lebih sempurna yaitu :

“Memancarkan yang seluas-luasnya pendidikan tentang Islam, sehingga pesantren ini mampu menghasilkan orang yang cakap dan tinggi kefahamannya tentang Islam, rajin berbakti dan beramal kepada masyarakat, berdasarkan taqwa (tunduk kepada Allah) sehingga menjadi orang yang ber-Ilmu, ber-Amal, ber-Taqwa”.

Dalam rapat besar tersebut hadir beberapa tokoh organisasi kemasyarakatan/agama yang membantu kelancaran pengukuhan nama Pesantren Sabilil Muttaqien diantaranya tokoh pimpinan NU, PSSI, dll.

Metode/sistem pembaharuan dari Pondok Pesantren menjadi Organisasi Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) pada tanggal 16 September 1943 ini menjadi tonggak sejarah yang sangat penting karena pada tanggal tersebut dilaksanakan pembangunan gedung madrasah yang besar di pusat PSM, yang akan digunakan untuk segala macam kegiatan pengajaran mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi, dan sebagai langkah awal dididirikan sekolah guru (Madrasah Mu’alimin atau Kullyatul Mu’alimin) yang pada akhirnya menjadi SGMI (Sekolah Guru Menengah Islam).

 

Dengan perkembangan PSM yang semakin maju dari tahun ketahun, yang dilandasi penanaman idealisme oleh Kyai Imam Mursyid Muttaqien tentang “Ruhul Islam Wal Wathon” telah menunjukkan hasil yang sangat baik dan mendalam terhadap santri dan murid PSM. Namun dalam keadaan tersebut terjadi musibah Pemberontakan PKI (Madiun Affair tahun 1948) yang mengakibatkan sebanyak 14 orang tokoh PSM termasuk Kyai Imam Mursyid Muttaqien diculik dan dibunuh secara kejam dan biadab.

 

Oleh karena itu, jika sejarah mencatat bahwa PSM merupakan salah satu pesantren di negara kita yang paling merasakan akibat pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun. Di tengah suasana berkabung dan prihatin warga PSM masih harus diuji kesabarannya oleh Allah yaitu terjadinya serangan Belanda yang lebih dikenal dengan “Clash” tahun 1949. Dalam perang tersebut 4 putra terbaik/murid PSM banyak yang gugur menjadi pahlawan bangsa. Di samping itu gedung madrasah pusat yang baru dibangun sebanyak 6 lokal terpaksa dibumi hanguskan oleh pasukan kita sendiri supaya tidak ditempati oleh Belanda. Dua peristiwa penting tersebut menjadikan warga PSM dan para sesepuh / pengasuh mengalami krisis kepemimpinan, maka pada tahun 1949 diadakan musyawarah inti warga PSM di Takeran.

Dalam pertemuan tersebut diputuskan Pengurus Pusat darurat yang diketuai Kyai Imam Suradji bin Muhammad Syahid. Pengurus darurat ini menghasilkan terjadinya proses Ihtifal di Magetan.

Hasil Ihtifal I ini adalah mengadakan pembentukan organisasi disegala bidang dengan dipimpin / dipelopori oleh Siti Fauziah binti Kyai Haji Imam Muttaqien, adik Kyai Imam Mursyid Muttaqien yang kemudian menjadi istri Kyai Haji Mohammad Tarmoedji. Dibawah kepemimpinan Siti Fauziah ini didirikan pula Muslimat PSM.

Berkat keuletan dan kegigihan serta kesabaran para pengurus PSM yang masih ada maka pada tahun 1951 telah berhasil diresmikan pembangunan gedung madrasah tahap I, disusul pada tahun 1957 pembangunan madrasah tahap II. Kini perkembangan PSM yang pesat didukung dengan alumni yang berasal dari berbagai daerah mendirikan cabang-cabang PSM dengan pilar utama tetap berbasis pendidikan. Sehingga saat ini PSM telah memiliki 99 cabang dan mengelola 132 lembaga pendidikan mulai TA/TK hingga SLTA yang tersebar di seluruh Indonesia.

MATERI

SAMBUTAN KAMAD - KELULUSAN

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Yang saya hormati Bapak/Ibu Komite Sekolah,Yang saya hormati Bapak/Ibu guru dan seluruh staf SD...